Kopi Jember yang Menghijaukan Lembah Grime Papua
Bukan
hanya kopi arabika yang populer dari Papua. Provinsi itu juga memiliki
kopi berjenis robusta yang terkenal. Salah satunya dari Lembah Grime,
Kabupaten Jayapura.
Lembah Grime memiliki beberapa kampung atau
distrik: Kemtuk, Kemtuk Gresi, Gresi Selatan, Namblong, Nimboran, dan
Distrik Nimbokrang. Topografi Lembah Grime bergelombang sampai berbukit
pada elevasi 20 - 100 m dpl, tanah sangat masam serta mempunyai tingkat
kesuburan rendah.
Lembah Grime berjarak sekitar 60 km dari
Sentani. Perjalanan sekitar 1,5 jam dengan kendaraan roda empat melewati
perbukitan dan hutan. Distrik Kemtuk Gresi, Nimbokrang dan Kemtuk
adalah tiga distrik penghasil kopi robusta di Kabupaten Jayapura.
"Melihat
kondisi ini, pemerintah Belanda waktu itu, menilai sangat cocok untuk
lahan budi daya kopi. Berdasarkan keletakannya yang berada di dataran
rendah, kemudian Belanda mendatangkan bibit kopi robusta dari Jember,
Jawa Timur pada 1959," ujar arkeolog Hari Suroto.
Pada waktu itu
Papua masih di bawah pemerintahan Belanda. Tanaman kopi ini ditanam
dengan pola kebun semihutan (agroforestry). Kopi-kopi dari Jember itulah
yang menghijaukan Lembah Grime.
Uniknya, kopi-kopi yang dibawa
ke Lembah Grime cenderung dibiarkan tumbuh alami. Tak banyak perlakuan
untuk meningkatkan hasil panen. Petani membiarkan begitu saja karena
menurut mereka cuma dibiarkan pun sudah subur.
"Masyarakat Papua
sangat senang menanam apa saja termasuk kopi robusta. Dalam budaya
setempat, hal ini dilakukan untuk menandai wilayah. Umumnya setelah
ditanam akan ditinggal begitu saja tanpa perawatan dan mereka baru akan
kembali setelah ada hasil untuk dipanen," kata Hari Suroto.
Kopi
dari Lembah Grime termasuk dalam jenis kopi robusta berbiji kecil, tidak
seperti kopi robusta pada umumnya yang berbiji besar. Kopi robusta
Lembah Grime bercita rasa dark chocolate, mungkin karena ditanam secara
tumpang sari dengan tanaman kakao.
Petani kopi Lembah Grime
generasi sekarang mewarisi tanaman kopi robusta dari orang tua mereka --
yang umumnya sudah tua dan perlu peremajaan. Pengembangan potensi kopi
di Lembah Grime sejak beberapa tahun belakangan ini mengalami pasang
surut akibat minimnya perhatian pemerintah daerah, juga kesadaran
masyarakat yang rendah untuk menanam kembali.
Tidak mudah
meremajakan ataupun memodernisasi perkebunan robusta di Lembah Grime.
Pola lama yaitu cara pandang petani dari hutan kopi robusta menjadi
kebun kopi robusta, "Lantaran itulah, petani kopi robusta harus
diberikan pendampingan. Perkebunan kopi robusta di Lembah Grime tidak
dapat menghasilkan panen yang optimal," imbuh Hari Suroto.





